Cerita rakyat

Di sebuah desa kecil yang terletak di lembah hijau, hiduplah seorang pengembala bernama Bagas. Setiap pagi, ia membawa kambing-kambingnya ke padang rumput yang luas di dekat hutan. Di antara kambing-kambingnya, ada seekor yang paling istimewa, namanya Putih. Kambing ini memiliki bulu yang paling halus dan mata yang bersinar seakan menyimpan rahasia.


Suatu sore, ketika Bagas sedang duduk di bawah pohon besar sambil mengawasi ternaknya, tiba-tiba langit berubah menjadi kelam meski matahari masih tinggi. Awan-awan bergerak cepat dan angin berhembus kencang. Putih, kambing kesayangannya, tiba-tiba berhenti makan dan mendongak ke langit. Sebuah kilatan cahaya muncul, dan saat Bagas memejamkan mata karena silau, ia mendengar suara lembut yang tak pernah ia dengar sebelumnya.


Ketika ia membuka mata, Putih tak lagi berdiri di hadapannya. Sebagai gantinya, ada seorang wanita cantik, dengan rambut panjang yang berkilau seputih bulu kambingnya dan mata yang tetap memiliki sinar yang sama. "Aku adalah Putih, Bagas," katanya dengan senyum lembut, "Sejak lama aku telah hidup dalam wujud kambing, tapi kini kutunjukkan diriku yang sebenarnya."


Bagas tertegun, tak mampu berkata-kata. Wanita itu mendekat dan menceritakan bahwa ia sebenarnya adalah seorang peri yang dikutuk menjadi kambing oleh kekuatan jahat. "Kutukan itu hanya bisa dipatahkan oleh pengembala yang tulus hati, dan selama ini, hatimu yang penuh kasih telah membebaskanku," jelasnya.


Hari-hari berikutnya, Putih membantu Bagas di ladang, namun dalam wujud manusia. Keberadaannya membawa keajaiban; ladang-ladang menjadi lebih subur, dan kambing-kambing yang lain menjadi lebih sehat. Bagas dan Putih membangun kebahagiaan bersama, mengubah kehidupan sederhana di desa itu menjadi penuh keajaiban yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Dan begitulah, cerita tentang pengembala dan peri kambing yang akhirnya hidup bersama sebagai manusia dikenal luas di seluruh desa, sebagai kisah tentang kesetiaan, kasih, dan kekuatan hati yang tulus.



Komentar